Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Desember 2012

Rahasia Cinta Pada Pandangan Pertama – Psikologi Cinta

 Apakah anda percaya cinta pada pandangan pertama ?? Setiap orang memiliki tanggapan yang berbeda mengenai cinta yang satu ini, karena memang pada dasarnya, cinta pada pandangan pertama adalah hal yang ‘misterius’… Namun hakikatnya orang yang pernah mengalami cinta pada pandangan pertama akan merasakan hal yang sama..

Sebuah ilustrasi sederhana..:

‘Saya seorang anak yang lugu duduk dikursi penonton menyaksikan drama yang diperankan oleh teman-teman. saya terpesona melihat semua wajah-wajah cantik di keramaian, dari kelas yang berbeda. Di tengah kekaguman, mata ini melihat seorang gadis yang rasanya belum pernah saya lihat sebelumnya.. dia duduk hanya beberapa kursi disebelah kiri saya, dan Dia Cantik! sumpah!!..

Beberapa detik saya menatap wajahnya,, hanya beberapa detik dan dunia saya berhenti sejenak, semuanya kabur dan terlupakan, dunia ini gelap kecuali wajahnya yang cantik… Sesaat kemudia, tanpa sengaja ia berbalik  kearah saya. Mata kami bertemu dan pada saat itu, dalam sekejap saya datang dengan tatap muka dan emosi yang baru.. “sebuah tatapan yang mewakili semua kata.” Perut saya terasa mual rasanya ingin muntah, dan tiba-tiba saja badan ini terasa seperti terbakar, keringat dingin membasahi kening dan mati rasa.. Tapi itu belum cukup… dengan semua emosi aneh yang mengalir, saya merasa mengigau bahagia, saya merasa seperti kabut, begitu ringan,, sepertinya saya bisa terbang… Beberapa saat saya sadar, saya kecanduan pada tatapannya. Dia melampaui semua batas-batas inspirasi saya..


Lalu apa yang terjadi selanjutnya.. ???

Benar… saya menyebutnya cinta pada pandangan pertama…

Secara psikologis, Tidak semua dari kita bisa jatuh cinta dalam hitungan detik. terlihat dalam sebuah penelitian bahwa pria lebih rentan jatuh cinta pada pandangan pertama daripada wanita. Sepertinya pria lebih di stimulasi oleh daya tarik visual dari pada wanita. Disisi lain, wanita mengalami proses ‘kimia’ romantis jauh lebih baik dari pada pria.. dalam arti bahwa perasaan cinta seorang pria sebagian besar dipicu oleh apa yang ia lihat, sementara dalam kasus wanita, biasanya mereka jatuh cinta pada seseorang setelah percakapan pertama..

Inilah rahasianya ! Cinta pada pandangan pertama 95% terjadi pada pria, sementara wanita cenderung untuk jatuh cinta pada percakapan pertama.. (sumber: “KLIK“)

Seperti yang dikutip dari geniusbeauty, para psikolog tersebut mengatakan bahwa mereka berhasil memecahkan mekanisme cinta terhadap wanita. Dalam pandangan wanita-wanita tersebut, mereka mengevaluasi daya tarik dari pasangannya mulai dari penampilan, aroma tubuh, ekspresi wajah, dan gerakan.

Hasilnya, butuh waktu sekitar 45 detik untuk melakukan enam tahapan penilaian terhadap pasangan mereka. Berikut enam tahapan yang wanita lakukan.

1. Wanita membutuhkan 5 menit untuk melihat warna dan ekspresi MATA sang pasangan.

2. 10 detik digunakan oleh wanita untuk melihat PENAMPILAN pasangan secara keseluruhan. Seperti,  pakaian apa yang dipakai dan kerapiannya.

3. Tahap ketiga ini digunakan wanita untuk mengevaluasi GAYA RAMBUT pasangan dan ini membutuhkan waktu sekitar 5 detik.

4. Pada tahap keempat ini perhatian wanita mengarah kepada TANGAN untuk melihat seberapa jantan dan gagah pasangannya tersebut.

5. Tahap kelima, wanita memfokuskan perhatian mereka kepada SEPATU pria.

6. GAYA BERJALAN, EKSPRESI WAJAH, GERAK TUBUH dan CARA BERBICARA menjadi perhatian wanita di tahap terakhir. Ini berlangsung selama 15 menit.

Dari enam tahap tersebut, dapat disimpulkan bahwa bagi wanita tidak ada istilah cinta pada pandangan pertama dalam kehidupan mereka. Bagi wanita yang ada hanya cinta pada pandangan keenam.
(sumber: “KLIK“)

Rujukan:

Rabu, 07 Maret 2012

"Bohong Putih" Wanita Terhadap Pria

Meskipun studi terbaru mengklaim bahwa wajah wanita bagaikan buku yang terbuka dalam mengungkap pikirannya, namun, wanita juga menyimpan beberapa hal dari pasangan.
Alasannya beragam. Kadang agar tak menyakiti pasangan, menghindari kesulitan, atau agar terlihat cool atau untuk menutupi sebuah "kebohongan putih'" Berikut lima kebohongan yang kerap dilakukan wanita di hadapan pasangan pria, seperti dikutip Times of India.

1."Aku baik-baik saja!"
Hati-hati, bila wanita mengatakan hal ini saat pasangan lupa hari ulang tahunnya atau ulangtahun pernikahan. Dia sama sekali tak merasa baik. Dan, ujung-ujungnya pria bisa menanggung emosi yang terbakar.

Deteksi: Sebelum emosinya meluap, bila melihat tanda-tanda ini, sebaiknya segera akui kesalahan dan meminta maaf. Bila pasangan telah bersama cukup lama, umumnya pria akan mulai memahami bila pasangan sedang memendam kecewa atau amarah.

2. "Aku mencintaimu apa adanya"
Sebenarnya, wanita ingin melanjutkannya dengan ucapan "... dan saya ingin kamu berubah."

Meski sebenarnya wanita tak setuju cara berpakaian pasangan, cara makan hingga bentuk tubuhnya, banyak yang mengatakan tetap mencintai pasangan apa adanya untuk membangun kepercayaan diri pasangan.

Deteksi: Pasangan harus mengamati apa yang membuat wanita mengatakannya. Bila wanita berkata hal ini saat diberi hadiah atau bunga, bisa menunjukkan dia mengatakan hal sebenarnya.

3. "Aku tak peduli walaupun kau menatap wanita lain"
Penampilan pasangan wanita mungkin saja terlihat cuek. Namun, meski terlihat tak peduli, kenyataannya tidak ada wanita yang suka pasangannya melihat wanita lain. Hal ini membuat mereka merasa menjadi orang kedua dan tak diperhatikan.

Deteksi: Bila wanita tak menunjukkan perasaan, pria bisa melihatnya dari pertanyaan si dia. Pertanyaan yang diajukan dengan santai seperti 'Apakah wanita yang tadi seksi?' atau 'Apakah kau menyukainya?' bisa menjadi tanda-tanda dia terganggu atas tindakan pasangan dan mencoba mengatakan 'Apakah saya kurang menarik sehingga kau tak memandangku?' Jadi, hati-hati dengan jawaban Anda.

4. "Teman-temanmu keren!
Walaupun ada kalanya wanita tak berbohong, tapi banyak dari wanita yang menganggap sahabat wanita pasangannya hanyalah pengganggu hubungan kalian. Terutama ketika mereka muncul pada saat-saat pribadi dan kencan.

Meski kerap merasa terganggu, wanita tak ingin mengecewakan dan menyakiti pasangan dengan perasaan mereka yang sebenarnya.

Deteksi: Tanda yang terlukis di wajahnya bisa menjadi petunjuk jelas. Misalnya, meski berada di keramaian bersama dengan teman pasangan, dia terlihat malas tersenyum dan berbicara seperlunya. Atau dia bisa mengelak dengan mengatakan,"Aku sedang menikmati".

5. "Katakan padaku, Aku takkan marah"
Dilema ini membuat pria sulit bersikap. Biasanya, hal ini diucapkan wanita saat ingin pasangan berkata jujur atau tahu pendapat pasangan namun tetap ingin mendengarnya langsung.

Hati-hati guys! Terlepas dari apa yang Anda katakan, dia pasti akan marah, terutama bila berkomentar mengenai penampilan, masakan atau pakaian yang akan diberikan untuk dipakai pasangan.

Deteksi: Tidak ada pendeteksi yang tepat untuk satu hal ini. Namun, meski pria akan mengkritik penampilan pasangan, pastikan Anda melakukannya dengan cara yang lebih lembut dan sugestif, bukan mengejek penampilannya secara menyolok.

Jadi, tanpa terlalu kritis atau menyanjung, katakan saja bahwa dia melakukan sesuatu yang lebih dari itu.


source:http://kosmo.vivanews.com.

Tanda-Tanda Fisik Jatuh Cinta

Jantung berdetak lebih cepat. Setiap kali ia menatap, Anda bisa merasakan ledakan energi, bahkan darah yang mengaliri sekujur tubuh. Apakah ini cinta?

Para ilmuwan menemukan ada banyak tanda secara fisik maupun mental yang mengungkap bahwa Anda sedang jatuh cinta. Bila jatuh cinta, tubuh akan mengirim sinyal bahwa orang ini bisa menjadi pasangan.

Ada beberapa ciri-ciri yang memberitahu bahwa Anda sedang jatuh cinta, bukan sekedar terpesona, seperti dikutip Yourtango:

1. Selalu ingin menatapnya
Dr Lucy Brown, ahli syaraf dan profesor di Albert Einstein College of Medicine mengungkap mata salah satu yang terpenting saat seseorang jatuh cinta. Ketika sedang jatuh hati, tanpa sadar Anda akan sulit untuk mengalihkan pandangan dari objek yang Anda sayangi.

Manusia secara alami akan melakukan kontak mata, dan akan melakukannya untuk kepentingan romantis. "Salah satu manifestasi jatuh cinta adalah melamun di sekitar orang tersebut dan selalu menatapnya."

2. Merasa melayang
Saat membicarakan kekasih baru Anda, seringkali Anda membicarakannya dengan penuh semangat dan tak bosan, seolah Anda baru saja minum suplemen super.

"Jatuh cinta membuat orang melayang, sama seperti euforia pada mereka yang mengonsumsi kokain," ujar Dr Brown.

Gejala fisik jatuh cinta seperti para pecandu: energi meningkat, denyut jantung dan tekanan darah naik. Bahkan beberapa orang merasa tak dapat tidur atau hanya makan sedikit.  Ini akibat otak menghasilkan dopamin dalam jumlah besar saat jatuh cinta, juga kimia norepinefrin yang mempercepat jantung ketika melihat si dia dan merasa gugup hingga berkeringat berada di sekitarnya.

3. Tak dapat menahan diri untuk selalu menyentuhnya

Tak hanya ingin melihatnya secara visual, Anda akan selalu ingin dekat pada orang yang Anda cinta. Ini menjelaskan mengapa saat menyukai seseorang Anda  kan melakukan apapun untuk sekedar bersentuhan tangan atau menyentuh rambutnya.

Dr Bianca Acevedo, Ilmuwan tamu di Universitas New York mengatakan, ketika sedang jatuh cinta, tubuh tanpa sadar akan saling bersandar satu sama lain. Ini merupakan manifestasi fisik dari otak untuk mencapai kedekatan emosional dengan orang yang dicintai.

4. Tak bisa berhenti memikirkannya
Tingkat dopamin tinggi membuat seseorang akan berpikir tentang kekasih hingga 85 persen tiap hari, yang dikenal dengan 'pikiran intrusif'.

Menurut Dr Brown, "Pada tahap awal dari cinta romantis, kebanyakan orang selalu memikirkan orang yang mereka cintai dan menjadi obsesi. Kendati terdengar ekstrim, hal ini normal. "Jika kurang dari 40 persen, maka itu bukan cinta sebenarnya. Tingkat obsesi saat jatuh cinta sering dikaitkan dengan obsesif-kompulsif."

Pasien obsesif kompulsif diberi pengobatan dengan meningkatkan kadar serotonin mereka. Ilmuwan menemukan, penurunan serotonin di otak menimbulkan perilaku serupa saat seseorang jatuh cinta.
Sebagian pakar menyatakan jatuh cinta adalah salah satu jenis kecanduan bukan emosi. Cinta juga mengaktifkan daerah subkortikal dan kortikal otak, yang berhubungan kecanduan obat-obatan terlarang.

Cinta memudar
Perasaan cinta mengebu-gebu, seiring waktu akan melandai serta mengalami pasang surut. Sebagian pasangan tetap bersama karena menjaga dan tetap mengingat perasaan romantis dan kasih sayang.
Bukan hanya sekadar "bersama demi anak-anak", cinta pasangan berkembang dan ditularkan pada keturunan mereka. Sebagian ilmuwan setuju bahwa cinta tak berkurang, tapi selalu berkembang. Dr Brown sependapat bahwa jika jatuh cinta, "Anda tahu kapan itu terjadi."


source:  http://kosmo.vivanews.com

Saat Pria Kecewa, Wanita Merasa Bahagia

Pasangan sedang merasa sedih, marah atau kecewa dan Anda merasa senang? Terdengar sangat kejam, tapi begitulah faktanya. Wanita, menurut penelitian, akan merasa bahagia saat pasangannya dalam kondisi kecewa.

Baik kekasih maupun istri, memang cenderung senang ketika pasangannya memperlihatkan emosi negatifnya, berupa kesedihan dan kekecewaan. Itu karena, sebagian besar wanita menganggap kalau diperlihatkannya emosi merupakan pertanda kalau hubungan dalam kondisi sehat.

Hal ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas Harvard, Amerika Serikat. Juga diketahui, saat seorang pria menyadari pasangannya dalam keadaan marah, wanita juga akan lebih bahagia.
Kondisi tersebut menggambarkan kalau wanita menyukai kondisi di mana pasangannya merasa tidak puas. Itu karena, menunjukkan kuatnya "keterlibatan" atau "investasi" dalam kebersamaan mereka.

"Hal ini konsisten dengan apa yang diketahui soal emosi wanita yang sering mengalami ketidakpuasan ketika pasangannya menghindar atau menarik diri secara emosi ketika menanggapi konflik," kata Dr. Shiri Cohen, kepala penelitian seperti dikutip dari Telegraph.co.uk.
Penelitian yang dipublikasi oleh American Psychological Association ini, melibatkan 156 pasangan heteroseksual. Status hubungan mereka, 56 persen menikah dan sisanya menjalani hubungan berkomitmen.

Selama penelitian, tiap pasangan diminta untuk mendeskripsikan pertengkaran dengan pasangannya dalam kurun waktu dua bulan terakhir yang menyebabkan rasa kesal, frustasi dan mengecewakan. 

"Secara keseluruhan, temuan dari studi ini menunjukkan bahwa pria kemungkinan merasa lebih puas dalam hubungan ketika mereka secara akurat dapat membaca emosi positif pasangannya. Sementara, kepuasan hubungan bagi wanita justru ketika secara akurat dapat membaca emosi negatif pasangannya," kata kata Dr. Cohen.


source:internet

Selasa, 28 Februari 2012

Cerdas Menghadapi “Post Power Syndrome”

Lelaki tua itu tampak terbaring lemah di atas tempat tidurnya. Matanya berkaca-kaca ketika bekas koleganya selama dia masih aktif bekerja dulu datang menjenguknya. Melihat yang dijenguk menangis, sang penjenguk yang rata-rata ibu-ibu pun ikut-ikutan menitikkan air mata. Tak pernah terbayang di benak mereka, bahawa kepala sekolah mereka yang dulu begitu garang dan berwibawa di depan anak buahnya, kini tengah terpuruk tertimpa stroke, tak lama setelah ia tak lagi menjabat sebagai kepala sekolah.

Sebutlah namanya Pak Badrun. Usianya masih 60 tahun lebih sedikit. Beberapa tahun lalu, dia menjabat sebagai kepala sekolah X. Ketika ada aturan pembatasan masa kerja kepala sekolah, beliau termasuk yang terkena aturan ini. Ia pun kembali menjadi guru biasa. Kejadian ini cukup membuatnya tertekan karena sebagai orang yang pernah berkuasa, ia tak dapat dengan mudah memposisikan dirinya sebagai anak buah. Tak lama kemudian, ia pun sakit-sakitan dan terakhir ini dia terkena stroke.

Berbeda dengan Pak Yono, yang juga pensiunan. Setelah pensiun, beliau lebih sibuk mengurus tanamannya. Selain itu, dia juga disibukkan dengan kegiatan mengantar-jemput cucunya yang masih TK di sekolah. Setelah pensiun, hidupnya menjadi terasa lebih hidup, lebih ceria, dan lebih berwarna.

Yups, inilah dua kondisi yang seringkali dialami oleh pensiunan. Satu dapat menerima dan menikmatinya dengan lapang dada, sedangkan yang satu lagi belum dapat menerima bahwa dirinya sudah tak lagi memiliki kekuasaan seeperti dulu. Hal yang kedua ini disebut sebagai post power syndrome, sindroma setelah kekuasaannya berakhir. Sebenarnya tak hanya pada bekas orang yang memiliki kekuasaan saja, tetapi sindroma ini juga bisa menimpa orang-orang yang pernah berjaya pada masa lalu, misalnya pada bintang cilik yang cemerlang pada zamannya tetapi ketika dewasa tidak lagi dikenal, atau pada artis yang pernah begitu laris pada ketika mudanya tetapi tak lagi dapat job saat usia telah beranjak tua. Semua orang bisa berpotensi terkena post power sindrome.

Banyak orang yang terkena post power syndrome ini setelah masa kejayaannya berakhir. Gejala paling sederhana, adalah ketika dia lebih suka bercerita mengenang masa lalunya yang penuh kejayaan daripada menghadapi hari-hari yang tengah dihadapinya. Atau, justru ia menjadi orang yang sedemikian menutup diri dari lingkungannya karena merasa ia tak lagi memiliki kekuasaan sehingga orang lain tak mau menghargai dirinya.  Ia menjadi orang yang pemurung dan mudah tersinggung, juga selalu menganggap negatif semua hal yang terjadi di sekitarnya.

Secara fisik, yang orang yang menderita post power syndrome akan tampak kuyu, lemah, mudah sakit-sakitan, dan terlihat lebih tua daripada usia yang sebenarnya. Tak jarang banyak yang akhirnya terserang penyakit stroke dan komplikasi. Penyakin-penyakit ini memang merupaka penyakit fisik, tetapi tak dapat kita pungkiri bahwa beban pikiran bisa menjadi pemicunya.

Bagaimana Cara Menghadapi Post Power Syndrome?


Post Power Syndrome tak akan menghinggapi kita jika kita menganggap kekuasaan yang sedang kita pegang ini hanyalah sementara. Jika hanya sementara, maka kita tak akan mengejar kekuasaan itu dan bahkan menyalahgunakan kekuasaan itu untuk kepentingan dirinya sendiri.

Selain itu, saat kita sedang berjaya, kita mestilah menyediakan rencana cadangan jika tak lagi memiliki jabatan. Paling tidak, kita memiliki rencana tentang apa yang akan kita lakukan jika masa kekuasaan itu berakhir. Untuk yang purnatugas bisa merencanakan kegiatan hariannya.

Tetap bergaul seperti biasa. Bergaul merupakan salah satu ciri kita sebagai makhluk sosial. Kalau kita mengasingkan diri, tentu kehidupan kita akan terasa suram. Beberapa orang mungkin akan berubah sikap ketika kita tak lagi punya kekuasaan. Tetapi yakinlah, akan banyak orang yang lebih menghargai kita ketika kita mampu untuk tetap bersosialisasi. Bahkan, akhirnya kita tahu mana orang yang tulus, mana orang yang tak tulus terhadap kita.

Melakukan kegiatan bermanfaat yang dulu tak bisa sering kita lakukan. Tanpa kekuasaan, mungkin kita akan memiliki pemasukan yang lebih sedikit. Namun, tanpa kekuasaan, kita jadi punya lebih banyak waktu luang. Jika dulu kita tak sempat untuk sekadar berhandai-handai dengan tetangga atau keluarga, sekarang waktu yang terluang lebih banyak sehingga kita bisa melakukan apa yang dulu tak kita lakukan.

Menghadapi semuanya dengan sudut pandang positif sangatlah penting. Dengan demikian, kita terhindar dari sikap berburuk sangka yang justru bisa merusak nood kita. Kita pun tetap bahagia dengan apa yang kita punya sekarang.

***

Kekuasaan bukanlah segalanya. Berakhirnya kekuasaan juga bukan akhir segalanya. Banyak orang yang tak bisa mengatasi post power syndrome, tetapi banyak pula yang cerdas menghadapinya sehingga hidupnya menjadi lebih baik meskipun tak lagi berjaya. Semuanya tergantung pada caranya menghadapi kenyataan.

(Sumber : Internet)